SELAMAT DATANG DI WEBSITE BIDANG PSP PETERNAKAN_ DISNAK_ ProvNTT

Lokakarya Peran Para Pihak Daerah Perkuat Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di NT

 


Kupang, NTT – Upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga sektor swasta. Untuk memperkuat sinergi tersebut, NGO Burung Indonesia menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Peran Para Pihak Tingkat Daerah dalam Mengomunikasikan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di NTT”.

Kegiatan yang berlangsung di Kupang ini menjadi wadah diskusi dan koordinasi antarparapihak guna meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya strategi serta rencana aksi keanekaragaman hayati sebagai landasan pembangunan berkelanjutan di daerah. Lokakarya juga bertujuan memperkuat kapasitas peserta dalam mengomunikasikan isu-isu keanekaragaman hayati kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam sambutannya, perwakilan Burung Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kolaborasi dan komunikasi yang efektif di tingkat daerah. Menurutnya, berbagai tantangan seperti degradasi habitat, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya alam memerlukan respons bersama yang terencana dan terukur.

“Keanekaragaman hayati merupakan aset penting bagi NTT yang mendukung kehidupan masyarakat, ketahanan pangan, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan. Oleh karena itu, seluruh pihak perlu memiliki pemahaman yang sama dan berperan aktif dalam implementasi strategi serta rencana aksi yang telah disusun,” ujarnya.

Selama lokakarya, peserta mendapatkan pemaparan mengenai kondisi terkini keanekaragaman hayati di NTT, kebijakan nasional dan daerah yang terkait dengan konservasi, serta pendekatan komunikasi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran publik. Diskusi kelompok juga dilakukan untuk mengidentifikasi tantangan, peluang, dan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di masing-masing wilayah.

Salah satu fokus pembahasan adalah pentingnya integrasi aspek keanekaragaman hayati ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Para peserta menilai bahwa perlindungan ekosistem dan spesies endemik NTT harus menjadi bagian dari agenda pembangunan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Melalui lokakarya ini, diharapkan terbentuk komitmen bersama antarparapihak dalam mendukung pelaksanaan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di NTT. Hasil diskusi dan rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi bahan masukan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor serta mendorong implementasi program konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kolaborasi daerah untuk menjaga kekayaan hayati NTT, sekaligus memastikan bahwa manfaat keanekaragaman hayati dapat terus dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Share:

Perkuat Ekonomi Warga, Desa Bonmuti Gelar Bimtek Ternak Ayam Petelur dan Sapi Potong

 




BONMUTI 8 mei 2026 – Pemerintah Desa Bonmuti di Kecamatan Amfoang Selatan kabupaten kupang mengambil langkah strategis dalam meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemberdayaan Masyarakat. Fokus utama kegiatan kali ini adalah Budidaya Ayam Petelur dan Manajemen Sapi Potong yang menyasar sebanyak 101 Kepala Keluarga (KK) di wilayah desa tersebut.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali warga dengan keterampilan teknis dan manajerial agar peternakan bukan lagi sekadar usaha sampingan, melainkan menjadi sumber pendapatan utama yang mandiri dan berkelanjutan.

Menuju Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Dalam sesi budidaya ayam petelur, para peserta mendapatkan materi mendalam mengenai:

  • Pemilihan Bibit: Cara memilih DOC (Day Old Chicken) yang berkualitas tinggi.

  • Nutrisi Tepat: Formulasi pakan agar produksi telur stabil dan berkualitas.

  • Kesehatan Ternak: Pencegahan penyakit melalui vaksinasi dan sanitasi kandang yang ketat.

"Dengan 101 KK yang bergerak bersama, Desa Bonmuti berpotensi menjadi sentra penghasil telur lokal, sehingga warga tidak perlu lagi mendatangkan telur dari luar daerah," ujar salah satu pemateri.

Modernisasi Manajemen Sapi Potong

Selain unggas, manajemen sapi potong menjadi sorotan utama. Mengingat potensi pakan alam yang tersedia, warga diajarkan untuk beralih dari cara tradisional ke arah yang lebih efisien.

Beberapa poin penting yang ditekankan dalam manajemen sapi potong meliputi:

  1. Penggemukan Intensif: Teknik pemberian pakan konsentrat tambahan selain rumput.

  2. Manajemen Kandang: Menjaga kebersihan agar sapi terhindar dari parasit dan penyakit kuku/mulut.

  3. Pencatatan (Recording): Pentingnya mencatat riwayat kesehatan dan pertumbuhan berat badan sapi secara rutin.

Harapan bagi 101 KK Penerima Manfaat

Antusiasme terlihat jelas dari para peserta. Sebanyak 101 KK ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam perubahan pola pikir (mindset) peternakan di Desa Bonmuti. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pasca-Bimtek agar ilmu yang didapat benar-benar diterapkan di lapangan.

Dengan adanya Bimtek ini, Desa Bonmuti optimis dapat menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga melalui sektor peternakan yang dikelola secara profesional.

Share:

RUMPUT ODOT

Rumput odot atau biasa juga disebut Rumput gajah odot merupakan jenis rumput yang tergolong baru di Indonesia. Rumput odot sangat baik digunakan sebagai pakan ternak sapi, kambing, domba, kerbau, kuda, rusa, kelinci, kalkun, dan yang lain sebagainya. Konon rumput odot masuk ke Indonesia dibawa oleh seorang TKI asal Tulung Agung yang bernama Pak Odot, lalu beliau mencoba menanamnya melalui media pot dan selang beberapa hari setelah bersemai baru dipindahkan ke kebun. Setelah cukup berumur dipanen dan diberikan kepada kambing PE ras Kaligesing dan ternyata kambing sangat menyukai rumput tersebut. Berdasarkan beberapa sumber rumput odot berasal dari Amerika dengan nama latin Pennisetum purpureum cv. Mott yang masih satu jenis dengan rumput gajah namun tumbuh pendek dengan batang yang lunak dan tidak berbulu.

Ciri-Ciri Rumput Gajah Odot: Pertumbuhan cepat

  • Tumbuh berumpun dan bertunas atau rhizoma
  • Perakaran kuat dan dalam
  • Daun dan batang halus tidak berbulu
  • Batang lunak mudah dimakan ternak

Rumput odot bagus diberikan untuk sapi/kambing/domba setelah menempuh perjalanan jauh atau ternak yang mengalami dehidrasi. Rumput odot memiliki kadar air lebih tinggi hingga diatas 80% dengan kandungan protein bahan segar diatas 14%, sehingga sangat membantu untuk menghilangkan dehidrasi sekaligus memberikan energi dan protein yang cukup untuk rekondisi, ditambah teksturnya yang empuk membuat ternak lahap memakan rumput tersebut. Semakin banyak makan, cairan tubuh makin stabil, rekondisi makin cepat.

Kandungan Nutrisi Rumput Gajah Odot:

  • Protein kasar 14 %
  • Protein kasar daun 14.35%
  • Protein kasar batang 8.1 %
  • Kadar lemak kasar daun 2.72%
  • Kadar lemak kasar batang 0.91
  • Digestibility daun 72.68%
  • Digestibility batang 62.56%

Cara Menanam Rumput Gajah Odot :

  1. Penanaman dengan Stek Batang, Bibit odot dari ruas/batang dipotong sepanjang 15-20 cm lalu benamkan ke lahan bisa dengan posisi tegak lurus ataupun miring. Sebelum dilakukan penanaman sebaiknya lahan diberikan pupuk dasar yaitu pupuk kandang baik dari kotoran sapi, kambing, ataupun ayam sekitar 7 hari sebelum penanaman. Sebaiknya lokasi lahan cukup untuk mendapatkan sinar matahari.
  2. Pola Tanam, Monokultur artinya pada lahan hanya ditanami rumput gajah odot saja. Tanaman Sela, karena tanaman ini ukurannya lebih pendek rumput ini bisa ditanam sebagai tanaman sela dikombinasikan dengan hijauan pakan yang lain, dipematang sawah atau disela sela tanaman perkebunan dengan memperhatikan intensitas matahari. Rumput ini juga bisa digunakan untuk menahan erosi lahan dengan penanaman pada tanah.
  3. Cara Penanaman, Bersihkan lahan yang akan ditanami rumput dari tanaman gulma dan semak belukar. Buat gundukan tanah lebar 60-80 cm dengan tinggi 20 cm. Tanam bibit rumput berupa stek dengan 2 ruas ditanam didalam tanah di tengah gundukan dan satu ruas diluar. Jarak tanaman dalam barisan 50-75 cm, jarak tanam antar barisan 75-150 cm.
  4. Pemupukan, Untuk pupuk dasar, berikan dan campur dengan pupuk kandang dengan jumlah 3 ton/ha. Jika ingin mempercepat pertumbuhan dapat dilakukan pemupukan pada umur 15 hari setelah tanam dengan pupuk urea atau dengan pupuk NPK sebanyak 60 kg / Ha. Pupuk cair (urine ternak) sapi/kambing/kelinci fermentasi juga dapat digunakan sebagai bahan pupuk cair untuk pemupukan dengan aplikasi disemprot ke tanaman tanah.
  5. Pemanenan, Pertama kali penanaman rumput odot bisa dipanen pada umur sekitar 60 hari. Ciri rumput yang sudah dapat dipanen adalah adanya ruas batang yang sudah berukuran 15 cm. Umur panen pada musim penghujan 35-45 hari, pada musim kemarau 40-50 hari. Potong pendek sejajar dengan tanah. Untuk pemanenan pertama kali sebaiknya dipanen lebih dari 60 hari atau ditunggu batangnya sampai dengan 30– 40 cm.

Rumput Odot

Jika anda ingin bibit rumput odot, kami juga menjual bibitnya berupa stek batang.
Ayo mari tanam rumput odot, mumpung masih musim hujan…

Spesifikasi Bibit Rumput Odot:

  1. Panjang stek minimal 20 cm
  2. Berbatang besar, halus, dan tidak berbulu
  3. Warna hijau kekuningan
  4. Layak tanam
  5. Kemungkinan gagal tanam kecil
  6. Umur sudah tua, kami menanam khusus untuk bibit (karena permintaan tinggi)

By.#Jonath@PSP# Peternak Bangkit_Peternak Sejahtra#

Share:

PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)

 

PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)



EPIDEMIOLOGI

Penyakit mulut dan kuku (biasa disingkat PMK; bahasa Inggris: foot-and-mouth disease, disingkat FMD) adalah penyakit hewan yang sangat menular akibat infeksi virus penyakit mulut dan kuku (FMDV). Penyakit ini dicirikan oleh luka (berupa lepuh dan/atau erosi) di bagian mulut dan kuku pada hewan berkuku belah, seperti sapi dan babi. Di tingkat nasional dan internasional, PMK merupakan penyakit hewan lintas batas yang penting karena memiliki dampak ekonomi yang signifikan.

Masa inkubasi pada sapi berlangsung 2–14 hari, pada domba 1–12 hari (mayoritas 2–8 hari), dan pada babi biasanya dua hari atau lebih.[4] Hewan yang terinfeksi FMDV menunjukkan tanda klinis yang bervariasi mulai dari ringan hingga berat, tergantung pada spesies hewan, umur hewan, serotipe virus, serta jumlah paparan virus. Babi yang dipelihara secara intensif dan sapi menunjukkan manifestasi klinis yang lebih berat dibandingkan domba dan kambing.[5]

Ciri khas penyakit ini adalah munculnya lepuh (vesikel) dan/atau erosi kulit di bagian hidung, lidah, bibir, di dalam rongga mulut (baik di gusi, langit-langit, maupun pipi bagian dalam), di sela kuku dan lingkaran kuku, serta di puting susu hewan betina. Setelah kulit melepuh, hewan menjadi lemas dan enggan bergerak atau makan. Biasanya, bagian tubuh yang melepuh akan pulih dalam tujuh hari, tetapi komplikasi (misalnya akibat infeksi bakteri) dapat memperpanjang kondisi buruk.[5] Sebagai contoh, luka di kaki lebih rentan terhadap infeksi bakteri yang dapat berujung pada kepincangan kronis, sementara infeksi bakteri di puting susu dapat mengakibatkan mastitis.[6]

Tanda klinis lain yang sering ditemukan yakni demam (sekitar 40 °C), depresi, hipersalivasi (keluarnya air liur secara berlebihan), penurunan nafsu makan, berat badan, dan produksi susu, serta hambatan pertumbuhan. Miositis juga bisa terjadi pada bagian tubuh lainnya. Umumnya, hewan dewasa akan pulih dari tanda klinis dalam 2–3 pekan dan sebagian di antara mereka menjadi pembawa virus. Biasanya, sapi menjadi pembawa virus dalam jangka waktu tidak lebih dari enam bulan. Meskipun demikian, sejumlah sapi dapat membawa virus selama tiga tahun.[3] Hewan-hewan yang terinfeksi secara kronis mengalami penurunan produksi susu; rata-rata sebanyak 80%. Tingkat kematian pada hewan dewasa relatif rendah (1–5%), tetapi pada sapi, domba, dan babi berusia muda cukup tinggi (hingga 20%). Kematian tersebut dapat terjadi, bahkan sebelum munculnya lepuh, akibat miokarditis multifokal


Kejadian Penyakit
Jauh beberapa waktu yang lalu (sebelum 1984) di Indonesia pernah terjadi wabah penyakit PMK tetapi sejak beberapa saat kemudian Indonesia telah terbebas dari penyakit ini. Oleh karena itu para peternak jangan terlalu kawatir dengan penyakit ini. Namun demikian PMK adalah penyakit yang endemik di sebagian Asia, Afrika, Asia timur tengah dan Amerika Selatan (terdapat wabah yang sporadik di daerah bebas). Oleh karena itu PMK harus selalu kita waspadai. Penyakit ini adalah penyakit paling menular dari penyakit penyakit hewan lain, dengan kerugian ekonomi yang sangat berarti. Dengan tingkat kematian yang rendah pada hewan dewasa, tetapi sering dengan tingkat kematian yang tinggi pada hewan muda.

Inang /Hospes:
Bovidae (sapi, sebu, kerbau, yak, /bangsa sapi), domba, kambing, babi, semua ruminansia liar dan golongan babi liar. Camelidae (unta, lama, /bangsa unta).

Cara Penularan:
  • Kontak langsung maupun tidak langsung (droplet).
  • Vektor hidup (manusia dll).
  • Bukan vektor hidup (mobil, peralatan dll).
  • Tersebar melalui angin, daerah beriklim khusus (mencapai 60 km di darat dan 300 km di laut).
Sumber virus:
  • Hewan hewan yang terkena  baik yang terinkubasi maupun klinis.
  • Leleran mulut, leleran hidung, tahi dan air kencing, susu dan sperma (diatas 4 hari sebelum gejala klinis).
  • Daging dan produknya yang ber pH di atas 6,0.
  • Karier: sebagian sapi atau kerbau hewan sembuh dan yang tervaksin (virus tahan di oropharynk di atas 30 bulan di sapi atau lebih lama di kerbau, 9 bulan di domba), kerbau afrika adalah tempat tinggal alami dari serotype SAT.
ETIOLOGY

Klasifikasi agen penyebab penyakit:
  • Virus tipe A dari family Picornaviridae, genus Aphthovirus.
  • Tujuh serotype immunology: A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, Asia 1
Ketahanan terhadap tantangan pisik dan kimia:
  • Temperatur: Tertekan oleh pendinginan ataupun pembekuan dan sangat tidak aktif pada temperatur di atas 50 derajad Celsiuc.
  • pH: Tidak Aktif pada pH <6.0 atao >9.0.
  • Desinfektan: Tidak aktif oleh sodium hydroxide (2 %), sodium carbonate (4 %), and citric acid (0,2 %). Resistant terhadap iodophores, quaternary mmonium compounds, hypoclorite and phenol, khususnya  pada bahan organik.
  • Daya tahan hidup: Hidup di kelenjar limpa dan bone marrow pada suhu netral, tetapi lemah pada otot ketika pH < 6.0 setelah rigor mortis. Bisa tahan di alam di atas satu bulan tergantung pada temperatur dan kondisi pH.

DIAGNOSIS

Masa inkubasinya 2 – 14 hari.

Diagnosa klinis:

Sapi.
  • Perexia, anorexia, menggigil, penurunan produksi susu untuk 2 - 3 hari, kemudian:
    • Menggosokkan bibir, mengeretakkan gigi, leleran mulut, suka menendangkan kaki: disebabkan oleh vesikula membran mukosa hidung dan bukal dan antara kuku.
    • Setelah 24 jam: vesikulanya ruptur setelah terjadi erosi.
    • Vesikula bisa juga terjadi pada kelenjar susu.
  • Rekoveri umumnya terjadi antara 8 – 15 hari.
  • Komplikasi: Erosi di lidah, superinfeksi dari lesi, mastitis dan penurunan produksi susu permanen, myocarditis, aboersi kematian pada hewan muda, kehilangan berat badab permanen, kehilangan kontrol panas..
Domba dan kambing.
Lesi kurang terlihat. Lesi kaki barangkali tidak terlihat. Lesi pada sekitar gigi domba. kematian pada hewan muda.

Babi.
Mungkin berkembang beberapa sebagian lesi kaki ketika dikadangkan di tempat keras. Kematian tinggi anak babi adalah kejadian yang frekwen.

Lesi:
  • Vesikula atau lepuh pada lidah, sela gigi, gusi, pipi, palatum molle dan palatum durum, bibir, nostril, moncong, koronary band, puting, ambing, moncong, ujung kuku, sela antar kuku.
  • Lesi setelah kematian pada dinding rumen, lesi di miokardium, sebagian hewan muda (tiger heart).
Diagnosa banding:
  1. Vesicular Stomatitis
  2. Swine vesicular disease
  3. Vesicularn exanthema of swine
Diagnosa Laboratorium.

Identifikasi agen penyakit:
  • ELISA
  • Complement fixation test
  • Isolation virus: inokulasi dari kelenjar tyroid bangsa sapi, babi, sapi dan sel ginjal domba: inokulasi BHK-21 dan sel IB-RS: inokulasi pada tikus.
Test serologis:
  • ELISA
  • Virus neutralisation test
Sample:
  • 1 g jaringan dari kelupasan (bukan) dari vesikula. Sampel epithel dapat ditempatkan media transport dengan pH 7,2 – 7,4 dan jaga tetap dingin.
  • Kumpulkan cairan esophagus – pharynk sebagai sampel bisa pada suhu beku dibawah 40 derajad Celsius.
PENCEGAHAN

Pencegahan dengan cara Sanitasi:
  1. Perlindungan pada zona bebas dengan membatasi gerakan hewan dan surveilance.
  2. Pemotongan pada hewan terinfeksi, hewan baru sembuh, dan hewan hewan yang kemungkinan kontak dengan PMK.
  3. Desinfeksi aset dan semua material yang terinfeksi (perlengkapan kandang, mobil, baju dll).
  4. Musnahkan bangkai, sampah, dan semua produk hewan pada area yang terinfeksi.
  5. Tindakan karantina.
Pencegahan dengan cara medis:
  • Vaksin virus aktif yang mengandung adjuvant.
  • Kekebalan 6 bulan setelah dua kali pemberian vaksin, sebagian tergantung pada antigen yang berhubungan antara vaksin dan strain yang mewabah.
*** penulis: Jonathan A.T - dari berbagai sumber.
Share:

Bimtek Pembukuan Kelompok

Tutorial Kali ini tentang Bimtek Buku administrasi pada Kelompok Tani

Tujuannya untuk menunjang sistem pengadministrasian suatu organisasi berkelompok tani, agar mendorong berkelompok yang transparan dan produktif khususnya dapat meningkatkan Usaha di bidang peternakan

Terima kasih yang sudah menonton dan jangan lupa LIKE SHARE & SUBSCRIBE



Share:

AYO TINGKATKAN POPULASI TERNAK

JAM DIGITAL

<< AYO BANGUN NTT " MEWUJUDKAN PETERNAK NTT YANG SEJAHTERA>>

Survey Kepuasan Masyarakat

Postingan Populer

Arsip Blog

Recent Posts