| Produk Unggulan | ||
|---|---|---|
|
||
| Nama | Benih Kode | |
| Harga | Rp 192.000 | |
| Fitur |
|
|
-
This is default featured slide 1 title
AYO BANGUN NTT
-
This is default featured slide 2 title
Fatumnasi, TTS
-
-
This is default featured slide 4 title
Bimtek Administrasi Pembukuan Kelompok Tani
-
This is default featured slide 5 title
Bangsa Sapi Sumba Ongole
-
This is default featured slide 6 title
Copper Rumput
-
-
This is default featured slide 8 title
Fulan fehan.
tabel
Perkuat Kedaulatan dari Pinggiran, BPPD NTT Matangkan Program "PERMATA 2027" Berbasis Lumbung Ternak
KUPANG
18 Juni 2026 –
Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
menggelar rapat rekonsiliasi strategis untuk mempertajam Usulan Perencanaan
Tematik Perbatasan (PERMATA) tahun anggaran 2027 bersama beberapa OPD di
Lingkup PemProv NTT termasuk Dinas Peternakan Provinsi NTT juga menghadiri
kegiatan tersebut . Langkah ini diambil guna memastikan pembangunan di beranda
terdepan Indonesia tidak hanya mencakup fisik infrastruktur, tetapi juga
menyentuh kedaulatan ekonomi melalui sektor unggulan daerah: peternakan.
Pertemuan
ini menjadi momentum krusial bagi BPPD NTT dalam mengintegrasikan program
PERMATA dengan transformasi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Fokus utamanya
adalah menyinergikan pengelolaan wilayah perbatasan dengan program percepatan
produksi daging nasional dan pengembangan peternakan sapi modern.
Dalam
visi "PERMATA 2027", BPPD NTT menempatkan sektor peternakan sebagai
tulang punggung ekonomi di kabupaten-kabupaten lokasi prioritas (Lokpri),
seperti Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), dan Kupang. Sinergi
ini dirancang untuk menjawab tantangan kemiskinan dan memperkuat ketahanan
pangan di perbatasan darat RI-Timur Leste.
“Pembangunan perbatasan harus memiliki wajah kemakmuran. Melalui PERMATA 2027, kita ingin memastikan bahwa setiap jengkal tanah di perbatasan tidak hanya aman secara geopolitik, tetapi juga produktif secara ekonomi melalui sentra peternakan,” ujar pihak dari Bidang PSP Dinas Peternakan Provinsi NTT dalam sela-sela kegiatan rekonsiliasi di Kupang.
Langkah
strategis ini sejalan dengan target nasional menuju swasembada pangan tahun
2027. Mengingat NTT merupakan salah satu lumbung ternak nasional, sinkronisasi
dengan program pembangunan peternakan—termasuk rencana pengembangan sapi perah
dan penggemukan sapi potong terintegrasi—menjadi prioritas dalam usulan tematik
kali ini, ada beberapa
Poin-poin
utama dalam usulan PERMATA 2027 pembangunan peternakan meliputi:
1. Penguatan Kawasan Pakan: Pengembangan lahan hijauan
pakan ternak di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Motamasin, dan
Wini.
2. Infrastruktur Pendukung: Pembangunan akses jalan
produksi dan fasilitas sanitasi hewan untuk mempermudah mobilisasi ternak
keluar-masuk kawasan perbatasan.
3. Pemberdayaan Peternak Lokal: Pelatihan berbasis teknologi
untuk meningkatkan kualitas bibit sapi unggul guna memenuhi pasar ekspor maupun
kebutuhan domestik.
Rekonsiliasi
ini merujuk pada visi besar Pemerintah Provinsi NTT, yaitu mewujudkan
masyarakat yang Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan. Dengan
menyatukan perencanaan pengelolaan perbatasan dan sektor peternakan, BPPD NTT
optimistis dapat menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang inklusif bagi
masyarakat perbatasan.
Melalui
koordinasi yang intensif ini, diharapkan usulan PERMATA 2027 dapat terkawal
dengan baik, sehingga perbatasan NTT benar-benar menjadi
gerbang ekonomi yang tangguh di masa depan.
YAYASAN FMG Bersinergi dengan Bidang PSP Disnak Provinsi NTT untuk Masa Depan Poktan anak muda GEN Z GEJALA di Desa Saisana Kab. TTS
TTS, OE’EKAM 12 Juni 2026 – Upaya nyata dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak terus digalakkan. Bidang Prasarana dan Sarana Peternakan (PSP) Dinas Peternakan Provinsi NTT resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kelompok Tani Muda GEN Z Gejala. Kelompok ini adalah binaan Yayasan Felix Maria Go di Desa Saisana , Kecamatan Noebeba, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Sinergi ini berfokus pada hilirisasi pertanian, khususnya pemanfaatan komoditas jagung lokal sebagai sumber pakan ayam Buras maupun Ras, yang dirangkaikan dengan pelatihan teknologi tepat guna serta sosialisasi permodalan.
Selanjutnya Menurut Kepala bidang PSP Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Hendrina Lero Kaka mengatakan Mandiri Pakan bagaimana kita Sulap Jagung Menjadi Pakan Ayam Berkualitas di Kelompok tani di Desa Saisana Kecamatan Noebeba memiliki potensi jagung yang melimpah, namun selama ini pemanfaatannya belum optimal untuk sektor peternakan. Melalui kolaborasi ini, Bidang PSP mengedukasi anggota Poktan muda GEN Z GEJALA untuk mengolah hasil panen jagung mereka menjadi pakan ayam yang bernilai gizi tinggi.
Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya operasional para peternak ayam yang selama ini bergantung pada pakan pabrikan yang cukup mahal. Dengan memanfaatkan jagung lokal, peternak bisa menghemat pengeluaran sekaligus meningkatkan kualitas ternak mereka secara mandiri. Selanjutnya di dalam diskusi bersama dengan Anggota poktan, Kabid PSP disnak NTT juga mengatakan Alih Teknologi melalui Pelatihan Mesin Penetasan Telur dapat dilakukan oleh generasi muda pada kelompok ini kita akan membina dan melatih, Tidak hanya fokus pada pakan, kegiatan ini akan di rencanakan juga membekali para petani dan peternak dengan aspek teknologi. Bidang PSP Disnak Provinsi NTT maupun sinergi dengan dinas Peternakan Kabupaten TTS untuk menggelar Pelatihan Pengoperasian Mesin Penetasan Telur.
Menurut Pimpinan Yayasan Felix Maria Go, dipilih nama kelompok Tani Muda Gen Z Gejala adalah Gerakan jaga Alam dan Air yang merupakan salah satu kelompok tani binaan yayasan FMG di Kabupaten TTS. dan "Kami ingin peternak di desa Saisana tidak hanya sekadar Menjaga Alam dan Air namun untuk meningkatkan Ekonomi pedesaan maka Anggota diharapkan juga bisa memelihara Ternak dengan Baik, tetapi juga mampu melakukan pembibitan secara mandiri dan modern. Dengan mesin penetasan ini, efisiensi waktu dan tingkat keberhasilan penetasan telur ayam akan jauh lebih tinggi,"
Para anggota Poktan tampak antusias mengikuti praktik langsung cara mengatur suhu, kelembapan, serta perawatan mesin agar menghasilkan anak ayam (DOC) BURAS yang sehat dan unggul. Untuk mendukung keberlanjutan usaha peternakan dan pertanian di Desa Saisana agenda juga dilanjutkan dengan Sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian.
Banyak petani yang kerap terkendala modal ketika ingin memperluas usahanya. Melalui rencana dari Bidang PSP serta Kolaborasi dengan Yayasan Felix Maria Go sosialisasi ini, dijelaskan secara mendalam mengenai akses permodalan dengan bunga rendah yang difasilitasi oleh pemerintah. KUR Pertanian ini diharapkan menjadi angin segar bagi Poktan GEN Z GEJALA untuk membeli bibit, menambah mesin penetasan, maupun mengembangkan usaha pengolahan pakan jagung dalam skala yang lebih besar. serta pimpinan Yayasan Felix Maria Go akan menyumbang satu unit Sumur Bor.
Harapan baru dari ketua Poktan GEN Z GEJALA di Desa Saisana bersama pengurus Poktan menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif dari Yayasan Felix Maria Go dan Bidang PSP ini. Kolaborasi paket lengkap—mulai dari pakan, teknologi penetasan, hingga akses modal—diyakini akan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Kecamatan Noebeba, khususnya dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan ke depan.
Lokakarya Peran Para Pihak Daerah Perkuat Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di NT
Kupang, NTT – Upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga sektor swasta. Untuk memperkuat sinergi tersebut, NGO Burung Indonesia menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Peran Para Pihak Tingkat Daerah dalam Mengomunikasikan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di NTT”.
Kegiatan yang berlangsung di Kupang ini menjadi wadah diskusi dan koordinasi antarparapihak guna meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya strategi serta rencana aksi keanekaragaman hayati sebagai landasan pembangunan berkelanjutan di daerah. Lokakarya juga bertujuan memperkuat kapasitas peserta dalam mengomunikasikan isu-isu keanekaragaman hayati kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam sambutannya, perwakilan Burung Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kolaborasi dan komunikasi yang efektif di tingkat daerah. Menurutnya, berbagai tantangan seperti degradasi habitat, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya alam memerlukan respons bersama yang terencana dan terukur.
“Keanekaragaman hayati merupakan aset penting bagi NTT yang mendukung kehidupan masyarakat, ketahanan pangan, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan. Oleh karena itu, seluruh pihak perlu memiliki pemahaman yang sama dan berperan aktif dalam implementasi strategi serta rencana aksi yang telah disusun,” ujarnya.
Selama lokakarya, peserta mendapatkan pemaparan mengenai kondisi terkini keanekaragaman hayati di NTT, kebijakan nasional dan daerah yang terkait dengan konservasi, serta pendekatan komunikasi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran publik. Diskusi kelompok juga dilakukan untuk mengidentifikasi tantangan, peluang, dan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di masing-masing wilayah.
Salah satu fokus pembahasan adalah pentingnya integrasi aspek keanekaragaman hayati ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Para peserta menilai bahwa perlindungan ekosistem dan spesies endemik NTT harus menjadi bagian dari agenda pembangunan yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Melalui lokakarya ini, diharapkan terbentuk komitmen bersama antarparapihak dalam mendukung pelaksanaan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di NTT. Hasil diskusi dan rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi bahan masukan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor serta mendorong implementasi program konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kolaborasi daerah untuk menjaga kekayaan hayati NTT, sekaligus memastikan bahwa manfaat keanekaragaman hayati dapat terus dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Perkuat Ekonomi Warga, Desa Bonmuti Gelar Bimtek Ternak Ayam Petelur dan Sapi Potong
BONMUTI 8 mei 2026 – Pemerintah Desa Bonmuti di Kecamatan Amfoang Selatan kabupaten kupang mengambil langkah strategis dalam meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemberdayaan Masyarakat. Fokus utama kegiatan kali ini adalah Budidaya Ayam Petelur dan Manajemen Sapi Potong yang menyasar sebanyak 101 Kepala Keluarga (KK) di wilayah desa tersebut.
Kegiatan ini bertujuan untuk membekali warga dengan keterampilan teknis dan manajerial agar peternakan bukan lagi sekadar usaha sampingan, melainkan menjadi sumber pendapatan utama yang mandiri dan berkelanjutan.
Menuju Kemandirian Pangan dan Ekonomi
Dalam sesi budidaya ayam petelur, para peserta mendapatkan materi mendalam mengenai:
Pemilihan Bibit: Cara memilih DOC (Day Old Chicken) yang berkualitas tinggi.
Nutrisi Tepat: Formulasi pakan agar produksi telur stabil dan berkualitas.
Kesehatan Ternak: Pencegahan penyakit melalui vaksinasi dan sanitasi kandang yang ketat.
"Dengan 101 KK yang bergerak bersama, Desa Bonmuti berpotensi menjadi sentra penghasil telur lokal, sehingga warga tidak perlu lagi mendatangkan telur dari luar daerah," ujar salah satu pemateri.
Modernisasi Manajemen Sapi Potong
Selain unggas, manajemen sapi potong menjadi sorotan utama. Mengingat potensi pakan alam yang tersedia, warga diajarkan untuk beralih dari cara tradisional ke arah yang lebih efisien.
Beberapa poin penting yang ditekankan dalam manajemen sapi potong meliputi:
Penggemukan Intensif: Teknik pemberian pakan konsentrat tambahan selain rumput.
Manajemen Kandang: Menjaga kebersihan agar sapi terhindar dari parasit dan penyakit kuku/mulut.
Pencatatan (Recording): Pentingnya mencatat riwayat kesehatan dan pertumbuhan berat badan sapi secara rutin.
Harapan bagi 101 KK Penerima Manfaat
Antusiasme terlihat jelas dari para peserta. Sebanyak 101 KK ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam perubahan pola pikir (mindset) peternakan di Desa Bonmuti. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus memantau perkembangan pasca-Bimtek agar ilmu yang didapat benar-benar diterapkan di lapangan.
Dengan adanya Bimtek ini, Desa Bonmuti optimis dapat menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga melalui sektor peternakan yang dikelola secara profesional.
RUMPUT ODOT
Rumput odot atau biasa juga disebut Rumput gajah odot merupakan jenis rumput yang tergolong baru di Indonesia. Rumput odot sangat baik digunakan sebagai pakan ternak sapi, kambing, domba, kerbau, kuda, rusa, kelinci, kalkun, dan yang lain sebagainya. Konon rumput odot masuk ke Indonesia dibawa oleh seorang TKI asal Tulung Agung yang bernama Pak Odot, lalu beliau mencoba menanamnya melalui media pot dan selang beberapa hari setelah bersemai baru dipindahkan ke kebun. Setelah cukup berumur dipanen dan diberikan kepada kambing PE ras Kaligesing dan ternyata kambing sangat menyukai rumput tersebut. Berdasarkan beberapa sumber rumput odot berasal dari Amerika dengan nama latin Pennisetum purpureum cv. Mott yang masih satu jenis dengan rumput gajah namun tumbuh pendek dengan batang yang lunak dan tidak berbulu.
Ciri-Ciri Rumput Gajah Odot: Pertumbuhan cepat
- Tumbuh berumpun dan bertunas
atau rhizoma
- Perakaran kuat dan dalam
- Daun dan batang halus tidak
berbulu
- Batang lunak mudah dimakan
ternak
Rumput odot bagus diberikan untuk sapi/kambing/domba setelah menempuh perjalanan jauh atau ternak yang mengalami dehidrasi. Rumput odot memiliki kadar air lebih tinggi hingga diatas 80% dengan kandungan protein bahan segar diatas 14%, sehingga sangat membantu untuk menghilangkan dehidrasi sekaligus memberikan energi dan protein yang cukup untuk rekondisi, ditambah teksturnya yang empuk membuat ternak lahap memakan rumput tersebut. Semakin banyak makan, cairan tubuh makin stabil, rekondisi makin cepat.
Kandungan Nutrisi Rumput Gajah Odot:
- Protein kasar 14 %
- Protein kasar daun 14.35%
- Protein kasar batang 8.1 %
- Kadar lemak kasar daun 2.72%
- Kadar lemak kasar batang 0.91
- Digestibility daun 72.68%
- Digestibility batang 62.56%
Cara Menanam Rumput Gajah Odot :
- Penanaman dengan Stek Batang, Bibit odot dari ruas/batang dipotong sepanjang
15-20 cm lalu benamkan ke lahan bisa dengan posisi tegak lurus ataupun
miring. Sebelum dilakukan penanaman sebaiknya lahan diberikan pupuk dasar
yaitu pupuk kandang baik dari kotoran sapi, kambing, ataupun ayam sekitar
7 hari sebelum penanaman. Sebaiknya lokasi lahan cukup untuk mendapatkan
sinar matahari.
- Pola Tanam, Monokultur artinya pada lahan hanya ditanami rumput
gajah odot saja. Tanaman Sela, karena tanaman ini ukurannya lebih pendek
rumput ini bisa ditanam sebagai tanaman sela dikombinasikan dengan hijauan
pakan yang lain, dipematang sawah atau disela sela tanaman perkebunan
dengan memperhatikan intensitas matahari. Rumput ini juga bisa digunakan
untuk menahan erosi lahan dengan penanaman pada tanah.
- Cara Penanaman, Bersihkan lahan yang akan ditanami rumput dari
tanaman gulma dan semak belukar. Buat gundukan tanah lebar 60-80 cm dengan
tinggi 20 cm. Tanam bibit rumput berupa stek dengan 2 ruas ditanam didalam
tanah di tengah gundukan dan satu ruas diluar. Jarak tanaman dalam barisan
50-75 cm, jarak tanam antar barisan 75-150 cm.
- Pemupukan, Untuk pupuk dasar, berikan dan campur dengan pupuk
kandang dengan jumlah 3 ton/ha. Jika ingin mempercepat pertumbuhan dapat
dilakukan pemupukan pada umur 15 hari setelah tanam dengan pupuk urea atau
dengan pupuk NPK sebanyak 60 kg / Ha. Pupuk cair (urine ternak)
sapi/kambing/kelinci fermentasi juga dapat digunakan sebagai bahan pupuk
cair untuk pemupukan dengan aplikasi disemprot ke tanaman tanah.
- Pemanenan, Pertama kali penanaman rumput odot bisa dipanen pada
umur sekitar 60 hari. Ciri rumput yang sudah dapat dipanen adalah adanya
ruas batang yang sudah berukuran 15 cm. Umur panen pada musim penghujan
35-45 hari, pada musim kemarau 40-50 hari. Potong pendek sejajar dengan
tanah. Untuk pemanenan pertama kali sebaiknya dipanen lebih dari 60 hari
atau ditunggu batangnya sampai dengan 30– 40 cm.
Rumput Odot
Jika
anda ingin bibit rumput odot, kami juga menjual bibitnya berupa stek batang.
Ayo mari tanam rumput odot, mumpung masih musim hujan…
Spesifikasi Bibit Rumput Odot:
- Panjang stek minimal 20 cm
- Berbatang besar, halus, dan
tidak berbulu
- Warna hijau kekuningan
- Layak tanam
- Kemungkinan gagal tanam kecil
- Umur sudah tua, kami menanam
khusus untuk bibit (karena permintaan tinggi)
PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)
PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)
Masa inkubasi pada sapi berlangsung 2–14 hari, pada domba 1–12 hari (mayoritas 2–8 hari), dan pada babi biasanya dua hari atau lebih.[4] Hewan yang terinfeksi FMDV menunjukkan tanda klinis yang bervariasi mulai dari ringan hingga berat, tergantung pada spesies hewan, umur hewan, serotipe virus, serta jumlah paparan virus. Babi yang dipelihara secara intensif dan sapi menunjukkan manifestasi klinis yang lebih berat dibandingkan domba dan kambing.[5]
Ciri khas penyakit ini adalah munculnya lepuh (vesikel) dan/atau erosi kulit di bagian hidung, lidah, bibir, di dalam rongga mulut (baik di gusi, langit-langit, maupun pipi bagian dalam), di sela kuku dan lingkaran kuku, serta di puting susu hewan betina. Setelah kulit melepuh, hewan menjadi lemas dan enggan bergerak atau makan. Biasanya, bagian tubuh yang melepuh akan pulih dalam tujuh hari, tetapi komplikasi (misalnya akibat infeksi bakteri) dapat memperpanjang kondisi buruk.[5] Sebagai contoh, luka di kaki lebih rentan terhadap infeksi bakteri yang dapat berujung pada kepincangan kronis, sementara infeksi bakteri di puting susu dapat mengakibatkan mastitis.[6]
Tanda klinis lain yang sering ditemukan yakni demam (sekitar 40 °C), depresi, hipersalivasi (keluarnya air liur secara berlebihan), penurunan nafsu makan, berat badan, dan produksi susu, serta hambatan pertumbuhan. Miositis juga bisa terjadi pada bagian tubuh lainnya. Umumnya, hewan dewasa akan pulih dari tanda klinis dalam 2–3 pekan dan sebagian di antara mereka menjadi pembawa virus. Biasanya, sapi menjadi pembawa virus dalam jangka waktu tidak lebih dari enam bulan. Meskipun demikian, sejumlah sapi dapat membawa virus selama tiga tahun.[3] Hewan-hewan yang terinfeksi secara kronis mengalami penurunan produksi susu; rata-rata sebanyak 80%. Tingkat kematian pada hewan dewasa relatif rendah (1–5%), tetapi pada sapi, domba, dan babi berusia muda cukup tinggi (hingga 20%). Kematian tersebut dapat terjadi, bahkan sebelum munculnya lepuh, akibat miokarditis multifokal
- Kontak langsung maupun tidak langsung (droplet).
- Vektor hidup (manusia dll).
- Bukan vektor hidup (mobil, peralatan dll).
- Tersebar melalui angin, daerah beriklim khusus (mencapai 60 km di darat dan 300 km di laut).
- Hewan hewan yang terkena baik yang terinkubasi maupun klinis.
- Leleran mulut, leleran hidung, tahi dan air kencing, susu dan sperma (diatas 4 hari sebelum gejala klinis).
- Daging dan produknya yang ber pH di atas 6,0.
- Karier: sebagian sapi atau kerbau hewan sembuh dan yang tervaksin (virus tahan di oropharynk di atas 30 bulan di sapi atau lebih lama di kerbau, 9 bulan di domba), kerbau afrika adalah tempat tinggal alami dari serotype SAT.
- Virus tipe A dari family Picornaviridae, genus Aphthovirus.
- Tujuh serotype immunology: A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, Asia 1
- Temperatur: Tertekan oleh pendinginan ataupun pembekuan dan sangat tidak aktif pada temperatur di atas 50 derajad Celsiuc.
- pH: Tidak Aktif pada pH <6.0 atao >9.0.
- Desinfektan: Tidak aktif oleh sodium hydroxide (2 %), sodium carbonate (4 %), and citric acid (0,2 %). Resistant terhadap iodophores, quaternary mmonium compounds, hypoclorite and phenol, khususnya pada bahan organik.
- Daya tahan hidup: Hidup di kelenjar limpa dan bone marrow pada suhu netral, tetapi lemah pada otot ketika pH < 6.0 setelah rigor mortis. Bisa tahan di alam di atas satu bulan tergantung pada temperatur dan kondisi pH.
Masa inkubasinya 2 – 14 hari.
- Perexia, anorexia, menggigil, penurunan produksi susu untuk 2 - 3 hari, kemudian:
- Menggosokkan bibir, mengeretakkan gigi, leleran mulut, suka menendangkan kaki: disebabkan oleh vesikula membran mukosa hidung dan bukal dan antara kuku.
- Setelah 24 jam: vesikulanya ruptur setelah terjadi erosi.
- Vesikula bisa juga terjadi pada kelenjar susu.
- Rekoveri umumnya terjadi antara 8 – 15 hari.
- Komplikasi: Erosi di lidah, superinfeksi dari lesi, mastitis dan penurunan produksi susu permanen, myocarditis, aboersi kematian pada hewan muda, kehilangan berat badab permanen, kehilangan kontrol panas..
- Vesikula atau lepuh pada lidah, sela gigi, gusi, pipi, palatum molle dan palatum durum, bibir, nostril, moncong, koronary band, puting, ambing, moncong, ujung kuku, sela antar kuku.
- Lesi setelah kematian pada dinding rumen, lesi di miokardium, sebagian hewan muda (tiger heart).
- Vesicular Stomatitis
- Swine vesicular disease
- Vesicularn exanthema of swine
- ELISA
- Complement fixation test
- Isolation virus: inokulasi dari kelenjar tyroid bangsa sapi, babi, sapi dan sel ginjal domba: inokulasi BHK-21 dan sel IB-RS: inokulasi pada tikus.
- ELISA
- Virus neutralisation test
- 1 g jaringan dari kelupasan (bukan) dari vesikula. Sampel epithel dapat ditempatkan media transport dengan pH 7,2 – 7,4 dan jaga tetap dingin.
- Kumpulkan cairan esophagus – pharynk sebagai sampel bisa pada suhu beku dibawah 40 derajad Celsius.
- Perlindungan pada zona bebas dengan membatasi gerakan hewan dan surveilance.
- Pemotongan pada hewan terinfeksi, hewan baru sembuh, dan hewan hewan yang kemungkinan kontak dengan PMK.
- Desinfeksi aset dan semua material yang terinfeksi (perlengkapan kandang, mobil, baju dll).
- Musnahkan bangkai, sampah, dan semua produk hewan pada area yang terinfeksi.
- Tindakan karantina.
- Vaksin virus aktif yang mengandung adjuvant.
- Kekebalan 6 bulan setelah dua kali pemberian vaksin, sebagian tergantung pada antigen yang berhubungan antara vaksin dan strain yang mewabah.












